Jumat, 06 Januari 2012

Punk By The Book : Subcultures and Styles

"Punk By The Book", pada awalnya saya kurang mengerti maksud dari 4 kata tersebut diatas. Setelah saya mencari tahu dari sumber yang telah ada, ternyata "by the book" itu adalah sebuah idiom, yang artinya adalah menjalankan sebuah prosedur tanpa dimengerti. Jadi "Punk by the book" maksudnya adalah orang-orang yang mengakui dirinya "Punk" degan memakai segala atribut dan mengklasifikasikan diri mereka ke dalam suatu sub-genre punk tanpa mengerti apa maksud dari penggunaan atribut atau gaya berpakaian tersebut.

Bukannya saya mau meng-klaim bahwa saya bukan seorang punk by the book, tetapi mungkin saya adalah salah satu dari mereka. Dan, kali ini saya bakal mengklasifikasikan beberapa jenis punk scene yang ada disekitar kita dari jamannya embah Sid Vicious terkenal sampe sekarang. Kategori-kategori di bawah ini mungkin bukansaya  copy paste dari sumber-sumber resmi, saya lebih mengkatagorikannya sendiri menurut apa yang udah saya baca, dengar dan tonton tentang punk culture selama beberapa tahun terakhir ini. Dan supaya tidak ada lagi punk by the book, saya berusaha semampu memberikan pengertian dari atribut-atribut setiap style dibawah.

1. Classic Punk Kid (UK)

Biasanya anak-anak yang mengadopsi gaya ini terinspirasi berat sama era keemasan Punk tahun 70-an di Inggris. Atribut mereka masih kaya akan simbol-simbol khas punk kayak paku payung (studs), kaos kekecilan, celana bondage (biasanya terbuat dari bahan Vinyl atau jeans yang banyak retsleting-nya), piercings, boots doc.mart, rambut mohawk warna-warni sampe badan mereka yang hampir rata-rata kurus cungkring semua. Dan rata-rata anak-anak classic punk ini masih memegang berat ideologi-ideologi lama punk.

Cara berpakaian anak-anak Classic Punk Inggris ini diterapkan bukan hanya untuk mengidentifikasikan diri mereka bahwa mereka anak punk, namun setiap atribut memiliki arti. Rambut mohawk mereka merupakan simbol dari bangsa yang terintimidasi atau kaum minoritas yang terinspirasi dari budaya rambut kaum indian, piercings melambangkan kesakitan yang dirasakan selama hidup, boots Doc.Mart merupakan sindiran terhadap kaum elite yang menginjak-injak kaum terbelakang, dan tubuh kurus mereka disebabkan oleh budaya freegan (anti mengkonsumsi makanan yang didapat dengan cara membeli) yang merupakan protes dari budaya konsumerisme dan hedonisme.

Nah ini contoh anak-anak Classic Punk dari Inggris (UK) : 
 

 
2. Classic Punk (USA)

Kalo yang ini tahun lahirnya sama, era akhir 1970 sampe 1980-an. Tapi tempatnya beda. Kalo Classic Punk yang ini lahir di New York, America Serikat. Contoh gampangnya adalah anak-anak The Ramones. Gaya mereka gak seribet Punk klasik dari Inggris dengan segala macem-macem atribut nyeleneh-nya. Biasanya anak-anak Classic Punk dari Amerika ini cuma pake jaket kulit, celana jeans atau vinyl sama T-shirt dan rambut mereka dibiarkan gondrong sebahu.

Ini contoh anak-anak Classic Punk dari Amerika: 
 

 
3. Hardcore Punk

Di akhir taun 1980-an gaya ini semerbak banget dipake sama anak-anak muda dimana-mana. Terutama di Amerika. Dasarnya scene hardcore ini bukan anggota dari keluarga besar sub-culture punk, tapi sejak anak-anak kreatif dan inovatif kayak anak-anak Bad Religion muncul dan mengakui jenis musik mereka buan sekedar Hardcore, tapi Hardcore Punk, jadi gak bisa disangkal lagi kalo scene ini bisa dikatagorikan ke dalam salah satu sub-culture punk.




Biasanya anak-anak Hardcore Punk jalan-jalan selalu pake celana tiga perempat warna item atau cokelat gak peduli udara dingin atau panas. Rambut mereka di shave (cukur) abis dan mereka pake jaket kegedean dengan panjang warna gelap. It's a must buat mereka buat masang tampang garang selalu. Dan beda sama anak-anak classic punk yang rata-rata cungkring krepes kelaperan, anak-anak Hardcore Punk rata-rata berbadan keker gede kayak bayi sehat. Dan biasanya mereka mentattoo punggung tangan mereka dengan huruf X yang merupakan simbol dari budaya Straight-edge (Anti narkoba, alcohol, rokok dan seks sebelum nikah). Budaya straight-edge ini merupakan aksi protes terhadap proses perusakan generasi yang semakin parah.
 
 
4. Mods Punk

Style punk yang ini mengadopsi gaya anak-anak Mods. Gaya ini mulai masuk sekitar tahun 2000an waktu Billy Joe dkk mulai bertransformasi dari gaya pop punk mereka menjadi sesuatu yang lebih "dewasa".

Anak-anak Mods Punk (dan biasanya fans berat Billie Joe) biasanya gak malu beli eyeliner di toko kosmetik cewek dan gapeduli embak-embak kasir-nya terheran-heran. Dan kebalikannya dari Classic Punk yang terkesan serba kumuh, style Mod Punk lebih mengedepankan kerapihan dan gaya formal. Ciri khas dari style Mod Punk adalah dasi warna item atau merah yang melambangkan sindiran terhadap orang-orang "berdasi" di luar sana. Jadi intinya, kalo Classic Punk menyindir dengan gaya radikal dengan segala atributnya, Mods Punk lebih menggunakan cara halus untuk melambangkan sindirannya.

Contoh gaya Mods Punk: 
 

 
 
 
5. Old Wave Pop Punk

Menurut gue, era pop punk itu terbagi menjadi dua, era 1980-an akhir sampai 1990-an (Old Wave) , terus era 2000-an (New Wave) sampe sekarang.

Old Wave pop punk bisa dibilang merupakan anggota sub-culture punk yang mendobrak dunia mainstream pertama kali. Band-band kayak Descendents, NOFX, Blink 182, Greenday, MXPX merupakan hit list dari old wave pop punk. Banyak remaja-remaja mengadopsi cara berpakaian mereka yang super santai. Di era Old Wave, banyak anak-anak remaja menindik kuping mereka dan memasangkan sebuah cincin berdiameter lebih besar dari daun telinga mereka yang waktu itu sangan populer dengan sebutan streched ear. Gue gak terlalu ngerti maksudnya apa tapi itu terinspirasi dari kuping buddha dan suku-suku terlantar di afrika. 
 
Secara keseluruhan style Old Wave Pop Punk gak terlalu mencolok. Kebanyakan mereka memakai celana kargo bewarna cokelat atau hitam kedodoran dan kaos atau kemeja warna-warni yang kekecilan. Budaya mohawk juga sudah tidak terlalu terlihat dan digantikan dengan rambut potongan cepak dan di warnai dengan warna-warna neon. 
 


 
 

6. Skinheads

Skin = Kulit, head = kepala, Skinhead = kepala kulit. Yak seperti namanya, Skinhead merupakan sub-culture yang mewajibkan semua anggotanya untuk mencukur kepalanya menjadi plontos. Skinhead merupakan mengembangan dari Mods. Pada saat itu Mods merupakan sebuah aksi protes terhadap kaum-kaum elite yang menindas kaum ekonomi lemah, namun setelah taun 60-an akhir Mods mulai mereda, dan muncul lah Skinhead.

Skinheads memiliki cara berpakaian yang unik dan atribut tersendiri. Walaupun mereka berasal dari kaum buruh-buruh miskin, tapi atribut mereka merupakan kemeja dengan kancing leher terpasang, celana jeans lusuh dan mereka menggunakan pengait celana model jumpsuit (gue gatau apa namanya hehehhee). Kemeja dan pengait celana tersebut melambangkan cara berpakaian orang-orang elitis yang rapi, jeans melambangkan cara berpakaian orang-orang ekonomi lemah dan kepala plontos melambangkan ciri khas buruh kotor pada saat itu. 
 

 
 

7. Ska Punk

Yap, sama nasibnya kayak Hardcore Punk, Ska Punk merupakan percampuran antara dua musik, Ska dan Punk. Band-band Ska Punk mulai bermunculan sejak 1980 akhir dan 1990an, salah satunya adalah Reel Big Fish.

Gaya berpakaian mereka juga merupakan percampuran antara style ska dan style punk. Mereka memakai kemeja bewarna cerah khas Hawaii, celana pantai dan rambut spike. Kayaknya gak ada pengertian spesifik dari gaya berpakaian mereka. Intinya mereka hanya ingin memasukan kesan santai ke dalam budaya punk.

Contoh anak-anak Ska Punk: 
 

 
 
8. New Wave Pop Punk and Easycore

New Wave Pop Punk adalah kategori yang mengelompokkan band-band pop punk yang baru brojol akhir 1990-an dan awal-awal tahun 2000 sampai sekarang, seperti Simple Plan, All Time Low, The Wonder Years dan masiiiiih banyak lagi. Nah, Easycore merupakan pengembangan dari pop punk. Bapak dari easycore adalah New Found Glory. Band-band easycore yang terkenal sekarang seperti Chunk! No Captain Chunk!, Set your Goals, A Day To Remember udah banyak berseliweran di kuping-kuping anak baru gede.

Kalo dari cara hidup dan gaya mereka emang udah mulai kontras banget dari gaya punk pada awalnya. Kesan kumuh dan penuh dengan simbol-simbol udah gak lagi terlihat. Anak-anak pada scene ini lebih banyak menggunakan pakaian biasa sehari-hari dengan rambut semi-gondrong khas anak-anak emo, terutama para front man mereka. Namun budaya piercing dan tattoo masih banyak terlihat.

Contoh anak-anak New Wave Pop Punk: 
 

 ________________________________________________________________________________
 
And, That's it. Sebenarnya masih ada beberapa tipe lagi, seperti di jepang yang berkembang menjadi harajuku, model rambutnya david beckam, dan lain sebagainya.
Menurut saya ada 2 jenis anak punk, yang pertama adalah Punk By The Book dan Punk By The Brain. Mungkin saya Punk By The Brain, yang tidak memprioritaskan atribut tetapi lebih memprioritaskan ideologi-ideologi dan cara berfikirnya. Atau mungkin saya bukan kedua-duanya, bahkan saya tidak termasuk dalam salah satu katagori yang saya buat sendiri diatas. But I DON'T GIVE ANY F*CKING SHIT! I love punk, I am Punk and that's it.

Menurut saya, kalian tidak perlu membuat tampilan kalian berantakan, rambut mohawk, nindik hidung, dll. Kalau kalian suka Punk, tunjukin, jadi beda, berani, positif dan jangan mau ngikutin hal yang orang mau padahal itu kurang cocok sama kalian. Stay true, stay Punk! Buat apa ngikutin gaya Sid kalau kalian kurang mengerti akan makna punk? Apapun itu sebenarnya punk sudah merasuki diri kalian tanpa kalian sadari, ingatlah punk itu sama seperti halnya orang pada umumnya, jangan berfikir negatif hanya karena penampilan punk yang terlihat nyeleneh. Oke segitu dulu, kurang lebihnya silahkan dibahas disini.

Sedikit Tentang EasyCore



Hallo temen-temen semua, kali ini saya akan membahas tentang easycore yang mulai berkembang di tahun 2000 dan hingga saat ini banyak digandrungi anak-anak muda. Easycore ini adalah salah satu sub-genre dari punk, so let's do it!!
Simpel aja arti dari easycore ini, Easy = Santai, Core = Biasanya kata ini biasa terdengar dimusik underground seperti metalcore, hardcore, rapcore, grindcore, dll. Sebenernya arti sebenernya dari "core" ini adalah inti dari sebuah genre, misalkan hardcore berarti inti dari musik itu adalah hard/keras, metalcore berarti inti dari musik itu adalah metal, grindcore berarti lebih ke drum yang sering grinding, dan lain sebagainya. Berarti Easycore adalah musik yang easy listening dan terdapat unsur musik keras tetapi tetap enak didengerin, biasanya para metalkid selalu mampir ke genre ini.
 
Sejenak mungkin genre ini terdengar aneh bahkan banyak yang bilang ini musik lebai seperti hal nya emokid, tetapi apapun musik kalian keep playing your music!!. Ada satu sisi Easycore yang terdengar cerah, fun, lebih ke party time dan berbau melodic punk yang ceria dengan lirik yang 'uplifting', tetapi di sisi yang lain Easycore bisa terdengar gelap dengan segala macem growl, double pedal dan breakdown yang bakal ngingetin kita sama band-band metalcore/hardcore. Bahkan gak jarang di setiap lagu Easycore ada "sing along" yaitu para personil menyerukan sebuah kalimat atau kata bareng-bareng ala Hardcore. 
 Sebenernya walau baru mulai menjamur akhir-akhir ini, Easycore udah berkembang dari awal taun 2000-an dan yang memperkenalkan Easycore pertama adalah New Found Glory, walaupun band pop punk senior ini masih menganut Pop Punk, tapi aroma-aroma easycore berkembang dari musik mereka. Lalu band-band seperti Four Year Strong, Set Your Goals sama A Day To Remember mulai mewarnai dunia musik. Tapi eksistensi Easycore masih kurang diakui, hingga akhirnya sekitar tahun 2006-2007 band-band Easycore muda mulai bertumbuhan. Tidak hanya di United States, tapi Eropa juga sampe keserang demam Easycore. Bahkan sekarang di Indonesia musik ini lagi berkembang banget bahkan ada forum "Easycore Indonesia". Wow! kemudian boominglah Peewee gaskins, billfold, dll.

Secara tidak langsung, Easycore telah membuka lembaran zaman baru buat musik punk yang udah mulai pudar. Generasi muda udah mulai membuka mata dan kuping mereka lagi buat aliran musik provokatif ini. Karena punk itu idientik dengan anak muda yang berjiwa dinamis dan berani buat menciptakan sebuah perubahan. Sedangkan anak muda jaman sekarang lebih banyak disuapin sama musik dunia mainstream yang sama sekali tidak membuat pikiran berkembang. Inilah band-band barat yang sampai saat ini banyak dijadikan panutan atau influence band easycore di indonesia, Set Your Goals, New Found Glory, The Wonder Years, Chunk! No Captain Chunk, Me vs Hero, Latin For Truth, With The Punches, Four Year Strong, Veara, Radio Feelings, A Day To Remember, dan masih banyak lagi. Jadi tunjukkan musik kalian, maju terus musikalitas indonesia dengan musik yang berkualitas, jadi apapun pendapat orang tentang musik kalian, keep playing your music!!


Jumat, 21 Oktober 2011

"METALCORECROSSOVER GENRE BONGKAR BATAS"


METALCORE


(Metallic Hardcore) merupakan subgenre dari 2 genre: heavy metal dan hardcore. Hardcore sendiri berakar dari punk rock dan secara musikal hardcore adalah buah perkawinan dari punk rock dan heavy metal. Pada awal kemunculannya, hardcore merupakan antitesa dari punk rock, yang mana ingin menghancurkan stigma negatif punk yang identik dengan pengkonsumsian alkohol dan drugs serta gigs (baca = pentas musik) yang hampir selalu diwarnai keributan. Gerakan ini bernama “Straight Edge” (SxE) dan dipelopori oleh Minor Threat, band asal Washington DC, USA yang dimotori oleh sang vokalis, Ian McKaye. Konsep SxE berbicara tentang pola hidup sehat dan positive mental attitude (mungkin salah satunya 4 sehat 5 sempurna kali yee…hehe –ed) yang diangkat ke dalam lirik lagu dan dijalani dalam kehidupan pribadi personil bandnya. Walhasil, mereka telah menginspirasi banyak band generasi berikutnya. Terlepas dari menganut SxE atau tidak, sebagai penikmat musik ini, kita tetap mendapat masukan secara substansial. Slogan-slogan yang menyerukan perubahan positif sering sekali terjadi di setiap gigs punk/hardcore. Tema-tema tentang kebersamaan, solidaritas, perdamaian, kesetaraan, HAM, lingkungan hidup dan bahkan kampanye sosial-politik, dari isu personal hingga ke global mereka geber. Selanjutnya hampir setiap band berusaha untuk mengeksplorasi musiknya yang dimotivasi oleh influences dari berbagai macam genre di luar genre standar punk/hardcore pada era itu hingga ke era berikutnya. Prototipe (cikal bakal –ed) metalcore sebenarnya sudah muncul sejak akhir dekade 80-an melalui band-band seperti S.O.D., Madball, Integrity, Maximum Penalty, Judge, Biohazard. Dan awal 90-an perkembangan hardcore menuju ke arah yang lebih keras dilanjutkan dengan kegarangan band-band seperti Ryker’s, Earth Crisis, Strife, yang kemudian dibuat sebuah kategori bernama new school, yang mana menawarkan musik hardcore yang lebih berat dengan sound yang metallic. Kategori old school dibuat untuk style hardcore yang dimainkan band-band awal seperti Youth Of Today, Gorilla Biscuits. Sebelum metalcore menjadi booming, Vision Of Disorder sudah memainkan style ini beberapa tahun sebelumnya, sama seperti All Out War, Adamantium, Starkweather dan Deadguy. Sekitar pertengahan 90-an, istilah metalcore mulai populer di scene hardcore dan metal. Slayer disebut-sebut sebagai “biang kerok” yang paling influential terhadap perkembangan style metalcore. Simak saja musik band-band seperti Morning Again, Reprisal, Arkangel, dll yang meniru telak guitar riffing-nya. Gebrakan awal metalcore ditandai oleh kesuksesan band-band seperti Poison The Well, Walls Of Jericho, Shai Hulud, Eighteen Visions, Nora, dll. Sub-subgenre heavy metal seperti death metal, grindcore, gothic doom, black metal juga turut berperan besar memberikan pengaruh kuat terhadap perkembangannya yang melahirkan band-band seperti Caliban, Killswitch Engage, Undying, Dead Blue Sky, Heaven Shall Burn, dll. Juga ada style math metalcore seperti musik yang dibesut oleh Converge, The Dillinger Escape Plan, The Red Chord, Every Time I Die, dll. Seiring dengan semakin meningkatnya popularitas metalcore, semakin banyak pula band baru yang bermunculan bagaikan jamur yang tumbuh di musim hujan. Semua batasan mereka dobrak, mengambil berbagai unsur musikal ke dalam formula musik masing-masing band sehingga menelorkan banyak style baru seperti emo (sori gw ganti istilah ini menjadi post-punk) metalcore seperti yang diusung oleh Atreyu, Avenged Sevenfold, Alexisonfire, From First To Last, dan segudang nama-nama lainnya. Ok, supaya lebih jelas, mari kita gali lebih dalam sub-subgenre metalcore yang paling populer di scene musik pekak berikut ini:
 
MOSHCORE


Moshcore juga dikenal sebagai new school hardcore, old school metalcore, beatdown metalcore, yang ciri khasnya menampilkan personil bergaya “tough guy”, terutama sang vokalis. Style ini sengaja didesain untuk menyulut penonton di mosh pit untuk berdansa liar sambil saling menghantam badan (body contact) dan moshing atau crowd surfing, yang semuanya memiliki resiko fisik yang tinggi. Moshcore sering dianggap sebagai komposisi metalcore yang paling simple, dengan lagu berdurasi sekitar 1-2 menit (nggak selalu sih) dan kental dengan unsur hardcore tradisional seperti moshing breakdowns dan sing-along, tapi dengan sound gitar yang metallic dan kebanyakan downtuned (disetem rendah –ed). Band yang paling ngetop, apalagi kalo bukan, Hatebreed, yang mendapat pengakuan mainstream karena pernah tampil di beberapa soundtrack film Hollywood (XXX, The Punisher dan Freddy Vs. Jason). Vokalisnya, Jamey Jasta, menjadi pemandu acara MTV2 Headbanger’s Ball. Selain itu ada Ryker’s, Integrity, Madball, 100 Demons, Walls Of Jericho, Blood For Blood, Bury Your Dead, Earth Crisis, Strife, Terror, Throwdown, dll.

 
MATHCORE
 
 
 
Mathcore juga biasa disebut technical metal, technical hardcore dan math metal yang diakui sebagai teknis bermain musik level tinggi. Subgenre ini memiliki akar dari band-band seperti Deadguy, Converge, Kiss It Goodbye, Training For Utopia, Botch, Turmoil, Coalesce, Bloodlet, Groundwork, Resurrection, Acme, Nerv dan Starkweather. Komposisi mathcore biasanya penuh dengan keganjilan dan bernuansa chaotic seperti aransemen dan struktur lagu yang kompleks dan lirik yang sulit dimengerti dan nyeleneh. Jarang banget ada pengulangan bagian lagu (verse chorus) yang konvensional. Rata-rata memainkan berbagai teknik yang sulit pada masing-masing instrumennya. Influences-nya bisa bermacam-macam, seperti jazz, fusion, blues rock, the rest, you name it. Silahkan simak musik-musik “kacau” dari pasukan metal akrobatik berikut ini: A Life Once Lost, An Albatross, Between The Buried And Me, Botch, Candiria (lama), The Chariot, Coalesce, Converge, Creation is Crucifixion, Curl Up And Die, Daughters, The Dillinger Escape Plan, The End, Every Time I Die (lama), Fear Before The March Of Flames, Five Star Prison Cell, Foreign Objects, Inner Surge, Into The Moat, Ion Dissonance, Look What I Did, Manhattan Skyline, Meshuggah, Mudvayne, Nights Like These, Nerv, The Number Twelve Looks Like You, The Power And The Glory, Psyopus, The Red Chord, Some Girls, Tanagra, dll.

 
EMO METALCORE
 
 
 
Emo atau emotional metalcore merupakan genre hibrida yang terdiri dari perpaduan rif-rif gitar metal yang dilengkapi dengan lirik dan vokal yang emo (???). Ciri khasnya terdapat vokal merdu di bagian tengah lagu. Haiah! Subgenre ini sebaiknya tidak perlu diklasifikasikan menjadi bagian khusus. Wanna know why? Bukankah hampir semua genre musik memiliki emosi, meskipun tingkatannya berbeda-beda? Jika yang dimaksud adalah tingkat emosi yang tinggi, banyak banget genre musik lain yang memiliki style bernyanyi yang penuh penjiwaan, seperti pengungkapan rasa sedih atau marah yang meluap-luap. Apalagi genre-genre cadas, hampir semuanya full of anger! Bisa menyiratkan rasa patah hati, kehilangan, kebencian maupun kedongkolan, dari problema cinta personal hingga ke topik-topik yang lebih luas. Lalu apa bedanya Dashboard Confessional dengan Ebiet G. Ade? Damn! Jadi rancu begini nih! Ok, yang jelas, label (sebutan/nama –ed) “emo” ini merupakan label untuk genre post-melodic pop/punk/hardcore yang berciri khas pada style vokal yang penuh emosi, bernyanyi merdu secara tradisional, juga terkadang scream atau growl (tapi tidak musti sih). So skip this shit! (anjrit, kok gw jadi ikut-ikutan emo gini…hehe –ed).

 
DEATHCORE
 
 
 
Deathcore adalah penggabungan antara metalcore dan death metal. Meskipun musiknya agak menyerupai slamming death metal dan deathgrind, deathcore memiliki permainan drum yang tipikal pada variasi dan kecepatannya. Lirik lagunya nggak selalu sama seperti lirik umum death metal, tapi menggunakan growl dan scream yang sama. Tempo ngebut dan kompleksitas death metal dan breakdowns metalcore dilebur jadi satu. Intinya deathcore adalah hibrida dari punk, hardcore dan death metal. Tapi disebut death metal saja juga tidak masalah kok. Lo simak saja band-band ini: Abscess, Animosity, Crematorium, Despised Icon, Glass Casket, Job For A Cowboy, The Red Chord, Unseen Terror, dll. Kemudian ada lagi, melodic deathcore, yang hasil kombinasi melodi dan harmoni gitar band-band melodic death metal seperti At The Gates dan In Flames, contohnya As Blood Runs Black, As Hope Dies, Neaera, The Black Dahlia Murder, Through The Eyes Of The Dead, dll.

 
SWEDECORE
 

 
 
Swedecore (juga sering disebut Gothencore dan melodic deathcore) adalah nickname buat style yang paling umum di scene metalcore hari ini, yang menggabungkan melodi dan harmoni gitar band-band melodic death metal asal Gothenburg, Swedia (siapa lagi kalau bukan At The Gates atau In Flames) dengan agresifitas dan breakdowns metalcore Amerika era akhir 90-an. Style ini paling banyak diusung oleh band-band Amerika Utara, meskipun sudah dibikin populer di Eropa oleh band-band seperti Caliban dan Heaven Shall Burn. Saat death metal dan hardcore telah sering bercampur-baur menjadi sebuah bentuk baru, hal-hal awal yang bisa mengidentifikasi secara jelas melodic death metal yang di-combine dengan metalcore nyaris muncul secara simultan, dengan album-album seperti; Undying “This Day All Gods Die”, Darkest Hour “The Prophecy Fulfilled”, Prayer For Cleansing “The Rain In Endless Fall” dan Unearth “Above The Fall Of Man”, yang masing-masing dirilis dalam kurun waktu satu tahun (1998-1999). Nggak jelas siapa yang pertama kali punya ide untuk meng-combine kedua style tersebut. Darkest Hour pernah merilis EP “The Misanthrope” di tahun 1996 yang dinilai memiliki unsur musik mereka di masa mendatang tapi lebih banyak bagian metalcore ala Damnation A.D. Album 1997 dari Day Of Suffering “The Eternal Jihad” disebut sebagai influence bagi banyak band Carolina Utara selanjutnya seperti Undying dan Prayer For Cleansing, dan juga Overcast yang telah memulai subgenre ini di Boston, Massachusetts. Dari deretan band-band di atas bisa kita lihat, bahwa ada dua titik asal-muasal Swedecore, yaitu scene Washington DC/Carolina Utara dan Boston. Bagaimanapun, hal itu telah sering diperdebatkan bahwa pemutusan gap antara kedua style tersebut juga telah dilakukan di scene metal Eropa. Pada awal 90-an, band seperti Entombed (Swedia) mulai menggabungkan unsur-unsur hardcore/punk dan Carcass (UK), yang dianggap sebagai salah satu pionir melodic death metal (pasca-album “Symphonies Of Sickness”), juga memiliki unsur hardcore yang kuat. Band yang paling banyak ngasih “petunjuk” kepada band-band metalcore, bagaimanapun, adalah At The Gates, yang album 1995 landmark-nya, “Slaughter Of The Soul”, menghindari banyak layer melodi dan gitar akustik bergaya folk seperti yang diusung oleh band-band satu kampungnya, Dark Tranquility dan In Flames, untuk menghasilkan musik yang jauh lebih liar dan enerjik. Di dalam buklet CD re-release “Slaughter Of The Soul”, vokalis Tomas Lindberg menulis bahwa banyak sekali fans At The Gates di Amerika yang terdiri dari “straight edge kids”. Ada banyak banget variasi di dalam subgenre ini. Band-band yang lebih populer seperti Killswitch Engage dan Atreyu, cenderung mengandalkan sound tebal yang lebih halus, breakdowns yang menyolok dan porsi vokal merdu yang lebih banyak, sementara band-band yang berada di label-label kecil, seperti Undying atau Beyond The Sixth Seal, cenderung memiliki musik yang lebih cepat dan liar yang sering sulit dibedakan dengan melodic death metal tradisional.Lirik band-band Swedecore sering lebih kompleks daripada lirik band-band standar Swedish-style melodic death metal, mungkin karena bahasa Inggris bukan bahasa utamanya. Tapi nggak juga ah, buktinya banyak band Eropa yang memiliki lirik serupa. Yang jelas, liriknya lebih sering merefleksikan tema-tema hardcore ketimbang metal, contohnya, Darkest Hour berfokus ke penjelasan-penjelasan sosial politik, sementara Undying berfokus ke veganisme dan environmentalisme. Nuansa musiknya yang apokaliptik ini juga nyambung ke tema-tema bernafas religi seperti Kristen, dan Christian metalcore pun menjadi julukan tersendiri, seperti yang diusung oleh As I Lay Dying, Zao (tidak termasuk swedecore). Swedecore secara tak terduga menjadi populer sekitar tahun 2000, bareng sama emo, mungkin karena waktunya bersamaan dengan band-band emo hardcore yang musiknya lebih keras. Di antara banyak band yang membantu mempopulerkannya dan dianggap sebagai perwakilan terdepan metalcore hari ini adalah Killswitch Engage, God Forbid dan Unearth. Karena kepopulerannya, mereka jadi sering dikritik sebagai genre “sell-out” dan dijuluki “the new nu-metal”. Validitas argumentasi ini didukung oleh fakta, dimana barisan pengisi acara Ozzfest tahun-tahun belakangan ini paling banyak disesaki oleh band-band metalcore, sebagaimana pada akhir 90-an, salah satu festival metal akbar paling bergengsi ini didominasi oleh band-band nu-metal (Slipknot, Mudvayne, Spineshank, Otep, dll). Setahun belakangan ini, Swedecore memasuki tingkat kedua popularitasnya, lazimnya di antara para fans musik cadas secara umum. Pengaruh Swedecore bisa terlihat di mainstream, sebagaimana banyak band emo/metalcore populer seperti Alexisonfire atau Silverstein, sering menggabungkan rif-rif melodic death metal secara menyolok ke dalam musiknya. Well, inilah para “plagiator Swedish style”, dari Amerika Utara: After The Eulogy, Age of Ruin, All That Remains, As Blood Runs Black, As Hope Dies, As I Lay Dying, August Burns Red, Avenged Sevenfold (pra-album “City of Evil”), Becoming The Archetype, Bleeding Through, Darkest Hour, Dead To Fall, Dead Elizabeth, Embrace The End, Endthisday, Foreknown, From Autumn To Ashes (album pertama), From This Day, Himsa, It Dies Today, Killswitch Engage, Living Sacrifice, Nehemiah, Prayer For Cleansing, Still Remains, The Autumn Offering, The Red Death, Trivium, Undying, Unearth, Veil of Maya, Winter Solstice, dll. Dari Jerman: Caliban, Heaven Shall Burn, Fear My Thoughts, Neaera, dll. Dari Australia: I Killed The Prom Queen, Parkway Drive, dll. Dari Inggris: Mendeed, dll. Dari Hungaria: Inferno Metalcore System. Dari Selandia Baru: Newwayhome.

 
Udah denger Convinced belom? Band hardcore asal Belgia yang musiknya bagaikan Iron Maiden ketemu Liar dengan female sopran voice. What the fuck is this? Silahkan namai sendiri genrenya. Perkawinan genre emang melahirkan subgenre dengan label atau istilah baru. Sebuah nama emang diperlukan untuk mengidentifikasikan sesuatu, tapi “pengkotakan” yang terlalu eksklusif dan sempit justru akan menjadi bumerang jika kita tidak bisa konsisten dengan ide atau komitmen dasar yang kita anut. So, seperti genre musik lainnya, hardcore tuh bukan sekadar musik, tapi juga merefleksikan attitude dalam bermusik.Namun tidak sedikit kalangan dari scene hardcore yang mengeluh soal kepunahan root style “old skool” yang tersingkirkan oleh kehadiran sub-subgenre “Metallic HC” tersebut di atas. Sepertinya semua perhatian HC kids (sebutan untuk anak hardcore –ed) tertuju ke “musik sekarang”. Eits, jangan salah, man. Buktinya masih banyak band-band generasi hari ini yang mengusung style “ajaran lama” seperti Death Threat, Stretch Arm Strong, dll. Di scene Bumi Nusantara aja kita masih punya Lost Sight, Looserz, Dead Pits, dll. Lou Koller, vokalis Sick Of It All punya opini bijak, “old school or new school doesn’t mean anything if your heart not true”. See?Well, kesimpulannya: musik emang tidak mengenal batasan, karena pada hakikatnya semua pemusik bebas berkarya menurut keinginan dan idealismenya masing-masing. Berani tampil beda, siapa takut? Don’t care what other people say. Meskipun sudah begitu banyak subgenre dari heavy metal dan hardcore seperti yang diuraikan di atas, musik atau penampakan luarnya memang sudah berbeda-beda, tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu: spirit. Yup, esensi punk/hardcore adalah spirit atau semangat yang memiliki counter culture terhadap semua sistem yang membelenggu di dalam setiap aspek kehidupan. Probably this is one of the biggest musical genres that inspires a lot to your life. In unity we are strong, in separation we are fall. Mari kita nikmati indahnya pluralisme seni hingar bingar.Apapun bentuk atau istilah genre musik superkeras yang ada dewasa ini, semuanya merupakan bagian dari evolusi musik yang sudah lahir sejak zaman kakek kita muda, yaitu: rock.


MELODIC DEATH METAL



Subgenre death metal ini menampilkan lebih banyak rif-rif dan solo gitar melodius, terkadang akustik dan juga vokal 'clean' di beberapa bagian, yang berlawanan dengan vokal 'menggeram parau' tradisionalnya. Formula genre ini adalah hasil racikan style heavy metal era 80-an seperti Iron Maiden, Judas Priest, Helloween maupun thrash metal ala Metallica dan Slayer dengan agresifitas death metal dan black metal tradisional. Death dan Morbid Angel juga sering dianggap sebagai "godfathers" dan pengaruh primer terhadap genre ini selain para "leluhur"; At The Gates, In Flames dan Carcass (sejak merilis album "Necroticism..." dan "Heartwork"). Sentenced juga sering dimasukkan ke deretan predikat tersebut setelah merilis album "North From Here" (meskipun album-album berikutnya mereka telah meninggalkan death metal). Nggak ketinggalan, Amorphis yang telah menjadi catatan tersendiri karena rilisan tahun 1992-nya berupa album "The Karelian Isthmus". Meskipun lahir di area geografis yang sama dengan black metal, 'melodeath' jarang berbicara tentang satanisme atau kehancuran Kristen, melainkan lebih memiliki tema-tema puitis, yang sangat bervariasi.Satu organ yang sangat penting di dalam tubuh melodic death metal adalah Gothenburg style, dinamai seperti ini karena kota Gothenburg adalah tempat orisinil tumbuh dan berkembangnya “the big three” (At The Gates, In Flames, Dark Tranquility) yang mempopulerkan “Gothenburg Sound”. Entah siapa duluan yang memulai style ini. Yang jelas, setiap band selanjutnya hampir selalu mengacu kepada ketiga “forefathers” tersebut, contohnya, Arch Enemy (dimotori oleh gitaris alumni Carcass, Michael Amott) dan The Haunted (pecahan At The Gates) yang namanya sangat berkibar. Kebanyakan band-band melodic death metal berasal dari wilayah Skandinavia dan Eropa Utara lainnya, terutama Swedia dan Finlandia. Contoh dari Swedia ada; Soilwork, Ablaze My Sorrow, Ceremonial Oath, The Duskfall, Gates Of Ishtar, Amon Amarth, dari Finlandia ada; Mors Principium Est, Insomnium, The Wake, Eternal Tears Of Sorrow, Ensiferum, and of course, Children Of Bodom, meskipun masih menyengat aroma heavy metal tradisionalnya. Dan dalam beberapa tahun terakhir, genre ini semakin populer. Bagaikan virus berbahaya, genre ini menjalar dengan cepat ke wilayah Amerika Utara seperti Florida, New York, California dan beberapa bagian Kanada, serta tidak menutup saluran ke wilayah negara lainnya. Gebrakan band-band metalcore Amerika Utara di akhir 90-an dan awal 2000-an dianggap turut sangat membantu menyebarkan popularitas style melodic death metal. Di Indonesia, subgenre ini agak kurang populer sebelum infiltrasi metalcore ke tengah scene lokal. Namun ironisnya, meskipun style ini di”adopsi” oleh band-band metalcore, mayoritas masyarakat di sini langsung menganggap style ini adalah metalcore tanpa tahu sumber terciptanya style ini. Karena tidak akan ada musik seperti; As I Lay Dying, Caliban, The Black Dahlia Murder, dll, jika nggak pernah ada para inovator melodic death metal tersebut di atas. So don’t forget the roots!

"METAL UNITE NOW!"


Berbicara tentang perang melawan terorisme, ini adalah perang yang telah sengaja dirancang oleh kelompok tertentu.. Mereka adalah pengusaha-pengusaha korporasi yang memang tidak senang dengan kedamaian dunia.. Perang merupakan alasan mereka untuk dapat meraup keuntungan kapital sebanyak-banyaknya...



Dengan adanya perang, keuntungan yang mereka peroleh:


1. Permintaan terhadap besi (bahan senjata) meningkat


2. Usaha senjata mereka jadi laku keras dari pada kacang goreng..


3. Penghasilan obat-obatan mereka meningkat (untuk korban perang)


4. Saluran media yang mereka punya jadi banyak yang minat (rating meningkat), karena berita perang adalah berita besar! layaknya video porno mirip artis lokal...


5. Permintaan pasar untuk bahan bakar meningkat... karena butuh banyak fuel untuk menggerakkan pesawat tempur, tank, kapal-kapal perang mereka..


6. Dan bidang bisnis lainnya yang terkait dengan perang (you name it..)


Jadi, istilah TERRORIST itu sebenarnya mereka yang rancang.. itu sebenarnya cuman virtual... Agama ISLAM, adalah sebuah institusi kepercayaan besar yang mereka 'pakai' untuk menciptakan perang melawan terrorisme! Ini bukanlah perang agama, ini bukan perang ideologi, ini bukan perang lawan zionis, ini bukan perang antar bangsa... Sadarlah kawan, semua kondisi perang ADA YANG MENGATUR... Mulai dari perang dunia I, II, perang vietnam, perang teluk, perang melawan narkotika, dan tragedi 9/11 yang sekarang menjadi perang melawan terroris..


Makanya kawan-kawan seperMETALan jangan terbuai dengan janji-janji suci perang.. Karena apapun alasannya, konsep perang itu absurd, tidak masuk akal!


INDONESIA adalah negara dengan penduduk ISLAM terbesar di DUNIA... INDONESIA juga termasuk negara dengan METALHEAD TERBESAR di asia... yoi, memang masyarakat kita sudah sejak LAMA diincar oleh mereka. ini negara yang kondusif sekali untuk terciptanya konflik.


Ingat, kita pernah belajar di PSPB, dulu bangsa penjajah pernah mengalahkan kita dengan taktik DEVIDE ET IMPERA (Politik Adu Domba). Saya menghimbau kawan-kawan seperMETALan jangan sampai hal ini terjadi lagi.. kekacauan di negeri ini adalah ULTIMATE GOAL dari para perancang perang ini..


ayolah METAL.. waspadalah! CERDAS dalam memahami masalah.. tentang segala prasangka buruk... HEY HO! LETS GO! HAVE FUN!!! \m/ METAL wakk... METAAAALLL \m/

"Black metal, islam dan satanism"


Akhir-akhir ini saya sering berpikir mengenai Black Metal dan Satanisme. Saya teringat sebuah posting di milis Indogrindsick yang menanyakan bagaimana caranya menjadi anggota gereja setan, gimana caranya mendapatkan buku Satanic Bibble, dsb. Saya juga teringat dengan fellow local scenester of mine yang mengirim surat ke salah satu distro di Jakarta dan meminta info seputar scene underground lokal, dan jawaban dari distro tersebut cukup mengejutkan. Di surat tersebut si pemilik distro (entah siapa) mengatakan bahwa Punk, Hardcore dan Black Metal sebaiknya enyah dari bumi Indonesia.





Saya tidak akan menanggapi komentarnya mengenai punk dan hardcore, karena saya memang tidak peduli. Yang menarik adalah komentarnya mengenai Black Metal. Ia mengatakan bahwa band-band Black Metal Indonesia itu seperti Srimulat, seperti pelawak. Saya tidak ingat penjelasannya mengenai hubungan band Black Metal lokal ini dengan srimulat. Yang jelas alasan ketidaksukaannya terhadap band Black Metal lokal karena band lokal kita, tidak seperti band luar, beraninya menghina agama orang lain bukannya agama sendiri.


Dari tulisan tersebut saya mengambil kesimpulan bahwa band Black Metal lokal kita, jika ingin hebat dan diakui seperti band Black Metal luar harus berani menghujat dan mencerca agamanya sendiri, dalam hal ini Islam yang merupakan agama dengan penganut terbesar di Indonesia....Kedengaran bodoh ya?


Ini yang membuat saya terusik, apakah memang menghujat agama sendiri itu merupakan suatu keharusan dalam Black Metal? Trus alasannya apa? Dengan pertanyaan ini didalam kepala, saya mencoba mencari jawaban ....dengan browsing di internet tentu saja. Dan dengan berkunjung ke beberapa situs dan membaca beberapa artikel dan interview, akhirnya saya punya kesimpulan seperti ini: Satanisme dalam Black Metal menurut saya terbagi dua, sekedar gimmick (image yang dibentuk hanya untuk keperluan publisitas) dan way of life. Contoh Black Metal yang sekedar gimmick adalah Venom, Bathory dan tentu saja Cradle of Filth dan juga hampir semua band Black Metal diluar wilayah Norwegia. Mengenai band-band Norwegia ini, orang-orang Inggris dulu sering menertawakan mereka karena mereka (Band Norwegia) justru lebih serius dalam menanggapi Venom. Menanggapi ledekan dari orang-orang Inggris ini, para pengikut Black Metal di Norwegia mengancam akan menyerang band-band Inggris yang melakukan tur di Norwegia, seperti yang akhirnya dialami oleh Paradise Lost.


Satanisme sebagai way of life dalam Black Metal dipelopori oleh band-band Norwegia seperti Mayhem, Burzum dan Darkthrone di akhir 80-an dan awal 90-an. Dengan Oystein Aarseth (alias Euronymous, gitaris Mayhem) sebagai orang nomor satu dan Varg Vikernes (alias Count Grishnackh, Burzum) sebagai tangan kanannya, Inner Circle dengan kedua belas anggotanya termasuk Ihsahn, Samoth dan Faust (Emperor) dan Fenriz (Darkthrone) memimpin komunitas Black Metal Norwegia. Inner circle inilah yang menentukan arah pergerakan Black Metal di Norwegia, mereka lah yang menyusun rencana yang nantinya akan dilaksanakan oleh mereka yang berada di Outer Circle. Dan terbakarlah sekitar 14 gereja sejak 1992 dan beberapa penyerangan terhadap band-band metal yang tidak sepaham dengan mereka.
 
Tokoh paling populer dalam pergerakan Black Metal Norwegia ini tentu saja adalah Kristian Vikernes yang kemudian berganti nama (kalian tentu tahu alasannya) menjadi Varg Vikernes yang kemudian lebih dikenal sebagai Count Grishnackh, motor dari Burzum. Varg tercatat telah membakar setidaknya 4 gereja dan untuk itu telah beberapa kali ditahan oleh polisi dan wajahnya menghiasi halaman beberapa media setempat. Namun berkat pengaruhnya dalam komunitas Black Metal tak seorang pun yang berani buka mulut dan akhirnya dia kembali bebas karena polisi tak memiliki bukti apa-apa. Varg kemudian ditangkap karena terbukti membunuh Oystein Aarseth alias Euronymous pada pagi hari 10 Agustus 1993 dengan 23 tikaman dipunggung dan lehernya. Varg akhirnya dihukum 21 tahun penjara atas tuduhan pencurian dan pemilikan 125 kg Dinamit dan 26 kg Glynite, pembakaran 4 gereja, perampokan, dan pembunuhan tingkat satu.




Hal yang paling menarik perhatian saya adalah filosofi dari pergerakan Black Metal Norwegia ini, alasan kebencian mereka terhadap Kristen sama sekali tidak seperti yang saya bayangkan selama ini. Satanis dalam konteks mereka berbeda dengan Anton LaVey dan Crowley. Mereka melawan Kristen dengan tujuan untuk mengusir mereka dari Norwegia dan mengembalikan kembali budaya Pagan kuno dan kebangkitan budaya-budaya Viking kuno seperti misalnya pertumpahan darah dan membunuh untuk pembalasan dendam. Mereka sangat membenci Kristen yang begitu mengagung-agungkan kelemahan dan atas simpati mereka kepada mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan. Oleh karena itulah Inner Circle menggagaskan ide untuk membakar simbol kebanggaan Kristen di Norwegia, gereja-gereja kuno indah yang terbuat dari kayu. Mereka berharap orang-orang Norwegia segera tersadar bahwa mereka tetap merupakan anak-anak Odin (dewa bangsa Viking).


Dan berikut ini beberapa tanggapan Count Grishnackh seputar beberapa issu penting. Alasan saya memilih dia sebagai referensi karena dia merupakan orang nomor 2 dalam elite Black Metal Norwegia, dan juga Euronymous sendiri jarang memberikan komentar, apalagi dia memang sudah nggak bisa ngomong lagi.Pandangan Count Grishnackh mengenai Anton LaVey, Crowley dan "US Church of Satan" (ini merupakan tanggapannya mengenai tuduhan dari seorang polisi yang mengatakan bahwa Count Grishnakh membaca buku-buku Anton Lavey dan Crowley, seperti ditulis didalam buku Lord of Chaos)


Tentu saja saya pernah membaca sebuah buku 20 halaman tulisan Crowley dan menyadari bahwa buku itu konyol, dan tanpa makna, tapi saya tidak pernah membaca sebaris kalimatpun tulisan LaVey, dan saya tidak merasa pernah membaca bukunya, atau buku yang lain dari Crowley. Saya memang berlangganan THE BURNING FLAME beberapa tahun yang lalu, tapi hanya untuk dua edisi - dan keduanya saya anggap membuang-buang waktu (dan sejauh yang saya tahu tidak ada artikel tulisan LaVey, disitu. Jika pun ada saya tidak menyadarinya.)


Intinya adalah saya tidak suka dengan tuduhan tolol dan tidak berdasar seperti itu. Kenyataannya saya selalu menentang gereja setan Amerika plastik ini. Ini berdasarkan pengetahuan saya mengenai pengikut Crowley dan LaVey di Norwegia dan Swedia - yang bagi saya nampak persis seperti segala hal yang saya benci. Saya telah lama diperingatkan untuk menentang satanisme plastik rendahan ini sejak 1991, dan sejujurnya saya kaget dengan kenyataan bahwa tidak polisi ataupun pengarangnya (buku Lord of Chaos) menyadari hal ini.

 
Pandangan Count Grishnackh mengenai Islam

 
Islam merupakan rival dari agama Kristen, jadi menurut saya biarkan lah mereka saling menghancurkan satu sama lain. Jika salah satu dari mereka menang, kami akan bergabung dengan pihak yang lebih lemah, kemudian akan KAMI basmi begitu kami menjadi yang terkuat. Saat ini Kristen merupakan pihak yang terkuat, jadi kita tidak seharusnya menyerang Islam, sebaliknya kita harus bergabung dengan mereka dan bersama-sama melawan Kristen dan Yahudi. Selain itu, Islam lebih dekat dengan filosofi hidup kami dibanding Kristen, terlebih lagi mereka menghormati mereka yang gugur dimedan perang, mereka memiliki sense of honour dan tentu saja pandangan mereka mengenai perempuan lebih baik dibandingkan dengan Kristen. Lebih baik 'Allah hu Akbar' dipagi hari tujuh hari seminggu, dibanding bunyi lonceng gereja setiap minggu.
 
Sebenarnya tidak perlu lagi disebutkan, bahwa tak satupun agama asing dapat diterima di Eropa KAMI, baik itu Islam, Yahudi, atau Kristen dan segala bentuknya.





Sekarang yang menjadi pertanyaan saya adalah, band-band lokal kita satanis jenis yang mana? Apakah satanis "gimmick" atau satanis "way of life". Dan jika memang mereka memilih untuk menjadikan Satanism sebagai way of life, alasannya apa? Seorang Count Grishnackh saja memiliki pandangan yang positif mengenai Islam. Satu-satunya alasan ketidaksukaannya terhadap Islam adalah karena ia seorang rasis dan fasis dan ia menentang segala hal yang non Norway-Gemanic. Dan kemudian jika kalian memilih menjadi satanis dan mejadikan LaVey dan Crowley sebagai acuan, atas dasar apa? Lagi-lagi saya sebutkan, seorang Count Grishnackh sendiri menganggapnya sebagai konyol dan sampah.


Satanism dalam Metal dan khususnya Black Metal sejak awalnya memang hanya sekedar gimmick dan sebaiknya tetap seperti itu, Venom dulu menyebut diri mereka sebagai komponen musikal dari industri hiburan horror dan mereka berperan sebagai Satans's Cheerleader, tetapi sesuatu terjadi ketika Black Metal menyeberangi laut utara dan sampai di Norwegia........

"Histori Rock Bawah Tanah di Indonesia"

Biar nggak ada lagi yang mengklaim jadi "band legend" sendirian, mungkin ada baiknya dibaca artikel yang gue tulis tahun 2003 ini untuk majalah Trax. Artikel ini memang perlu revisi dan penyempurnaan lagi, jadi kalo ada pelaku sejarahnya di sini atau nara sumbernya langsung, ayo dibantu untuk meluruskan sekarang. Terima kasih.



NB: Hebat sekali band yang mengaku legend itu, mereka lupa masih ada langit di atas langit :D



 
HISTORI ROCK BAWAH TANAH DI INDONESIA

 
Embrio kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulitdilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an sebagaipendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gypsy(Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS(Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Merekainilah generasi pertama rocker Indonesia.


Istilah underground sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70- an. Istilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asalBandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkanmusik keras dengan gaya yang lebih `liar' dan `ekstrem' untuk ukuranjamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band-band tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milikband-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, BlackSabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP.Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarahhanya sedikit saja album rekaman yang terlahir dari band-band rockgenerasi 70-an ini.


Dekade 80-an tercatat sebagai masa perkembangbiakan rock n' roll danmulai bergeraknya subkultur ini ke arah industri. Tokoh sentral yangdominan mewarnai perkembangan musik rock di era 80-an tentu saja LogZhelebour asal Surabaya. Mantan pengusaha rental lampu disko yang nekatmengkapitalisasi musik rock berkat dukungan perusahaan rokok ternama inisecara berkala sukses mengorganisir Festival Rock Se-Indonesia yang babak finalnya selalu digelar di kota pahlawanSurabaya.


Gara-gara festival inilah media massa nasional kemudianmengklaim Surabaya sebagai barometer musik rock Indonesia. Ajangkompetisi band-band rock nasional yang digelar sejak 1984 ini dikemudian hari banyak melahirkan alumni-alumni rock kugiran yangnamanya sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya ElPamas, Grass Rock (Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock(Solo), Val Halla (Medan) hingga Roxx (Jakarta). Selain itu Logjugalah yang membidani lahirnya label rekaman rock yang pertama diIndonesia, Logiss Records. Produk pertama label ini adalah albumketiga God Bless, "Semut Hitam" yang dirilis tahun 1988 dan ludes hingga400.000 kaset di seluruh Indonesia.


Menjelang akhir era 80-an, di seluruh dunia waktu itu anak-anak mudasedang mengalami demam musik thrash metal. Sebuah perkembangan stylemusik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan heavy metal. Band- bandyang menjadi gods-nya antara lain Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth,Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Kebanyakan kota- kota besar diIndonesia seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang hingga Bali, scene undergroundnya pertama kali lahir dari genre musik ekstrem tersebut. Di Jakarta sendirikomunitas metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988.


Komunitas anak metal (saat itu istilah underground belumpopuler) ini biasa hang out di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasanpertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Menurut Krisna J. Sadrach,frontman Sucker Head, selain nongkrong, anak-anak yang hang out di sanaoleh Tante Esther, owner Pid Pub, diberi kesempatan untuk bisa manggungdi sana. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live show dari band-bandbaru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebutmengusung musik rock atau metal.


Band-band yang sering hang out di scene Pid Pub ini antara lain Roxx(Metallica & Anthrax), Sucker Head (Kreator & Sepultura), Commotion OfResources (Exodus), Painfull Death, Rotor (Kreator), Razzle(GN'R), Parau (DRI & MOD), Jenazah, Mortus hingga Alien Scream(Obituary). Beberapa band diatas pada perjalanan berikutnya banyak yangmembelah diri menjadi band-band baru. Commotion Of Resources adalah cikalbakal band gothic metal Getah, sedangkan Parau adalah embrio band deathmetal lawas Alien Scream. Selain itu Oddie,vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial SicMynded di Amerika Serikat bersama Rudi Soedjarwo (sutradara Ada ApaDengan Cinta?). Rotor sendiri dibentuk pada tahun 1992 setelahcabutnya gitaris Sucker Head, Irvan Sembiring yang merasa konsepmusik Sucker Head saat itu masih kurang ekstrem baginya.


Semangat yang dibawa para pendahulu ini memang masih berkutat polatradisi `sekolah lama', bangga menjadi band cover version! Di antaramereka semua, hanya Roxx yang beruntung bisa rekaman untuk single pertamamereka, "Rock Bergema". Ini terjadi karena mereka adalahsalah satu finalis Festival Rock Se-Indonesia ke-V. Mendapat kontrakrekaman dari label adalah obsesi yang terlalu muluk saat itu.


Jangankan rekaman, demo rekaman bisa diputar di radio saja mereka sudahbahagia. Saat itu stasiun radio yang rutin mengudarakan musik- musikrock/metal adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya dan Radio SK. Daribeberapa radio tersebut mungkin yang paling legendaris adalah RadioMustang. Mereka punya program bernama Rock N' Rhythm yangmengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB. Stasiun radioini bahkan sempat disatroni langsung oleh dedengkot thrashmetal Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke Jakarta bulan Juni 1992.Selain medium radio, media massa yang kerap mengulas berita- beritarock/metal pada waktu itu hanya Majalah HAI, Tabloid Citra Musik danMajalah Vista.


Selain hang out di Pid Pub tiap akhir pekan, anak-anak metal inisehari-harinya nongkrong di pelataran Apotik Retna yang terletak didaerah Cilandak, Jakarta Selatan. Beberapa selebritis muda yang dulusempat nongkrong bareng (groupies?) anak-anak metal ini antara lain AyuAzhari, Cornelia Agatha, Sophia Latjuba, Karina Suwandi hinggaKrisdayanti. Aktris Ayu Azhari sendiri bahkan sempat dipersunting sebagaiistri oleh (alm) Jodhie Gondokusumo yang merupakan vokalis Getah dan jugamantan vokalis Rotor.


Tak seberapa jauh dari Apotik Retna, lokasi lain yang seringdijadikan lokasi rehearsal adalah Studio One Feel yang merupakanstudio latihan paling legendaris dan bisa dibilang hampir semua band- bandrock/metal lawas ibukota pernah rutin berlatih di sini.


Selain Pid Pub, venue alternatif tempat band-band rock undergroundmanggung pada masa itu adalah Black Hole dan restoran Manari Open Air diMuseum Satria Mandala (cikal bakal Poster Café). Diluar itu, pentas seniSMA dan acara musik kampus sering kali pula di "infiltrasi" oleh band-band metal tersebut. Beberapa pensi yang historikal di antaranya adalah Pamsos (SMA 6 Bulungan), PL Fair (SMA Pangudi Luhur), Kresikars (SMA 82), acara musik kampus Universitas Nasional (Pejaten), Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia(Depok), Unika Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Indonesia(Serpong) hingga Universitas Jayabaya (Pulomas).


Berkonsernya dua supergrup metal internasional di Indonesia,Sepultura (1992) dan Metallica (1993) memberi kontribusi cukup besar bagiperkembangan band-band metal sejenis di Indonesia. Tak berapa lamasetelah Sepultura sukses "membakar" Jakarta dan Surabaya, band speedmetal Roxx merilis album debut self-titled mereka di bawahlabel Blackboard. Album kaset ini kelak menjadi salah satu albumspeed metal klasik Indonesia era 90-an.


Hal yang sama dialami pula oleh Rotor. Sukses membuka konser fenomenal Metallica selama dua hari berturut-turut di Stadion Lebak Bulus, Rotor lantas merilisalbum thrash metal major labelnya yang pertama di Indonesia, Behind The8th Ball (AIRO). Bermodalkan rekomendasi dari manajer turMetallica dan honor 30 juta rupiah hasil dua kali membuka konserMetallica, para personel Rotor (minus drummer Bakkar Bufthaim)lantas eksodus ke negeri Paman Sam untuk mengadu nasib. Sucker Headsendiri tercatat paling telat dalam merilis album debut dibanding bandseangkatan mereka lainnya. Setelah dikontrak major label lokal, AquariusMusikindo, baru di awal 1995 mereka merilis album `The Head Sucker'.Hingga kini Sucker Head tercatat sudah merilis empat buah album.


Dari sedemikian panjangnya perjalanan rock underground di tanah air,mungkin baru di paruh pertama dekade 90-anlah mulai banyak terbentukscene-scene underground dalam arti sebenarnya di Indonesia. DiJakarta sendiri konsolidasi scene metal secara masif berpusat diBlok M sekitar awal 1995. Kala itu sebagian anak-anak metal seringterlihat nongkrong di lantai 6 game center Blok M Plaza dan disebuah resto waralaba terkenal di sana.


Aktifitas mereka selain hang out adalah bertukar informasi tentang band-band lokal dan internasional, barter CD, jual-beli t-shirt metal hinggamerencanakan pengorganisiran konser. Sebagian lagi yang lainnyamemilih hang out di basement Blok Mall yang kebetulan letaknyaberada di bawah tanah.


Pada era ini hype musik metal yang masif digandrungi adalah subgenre yangmakin ekstrem yaitu death metal, brutal death metal, grindcore, blackmetal hingga gothic/doom metal. Beberapa band yang makinmengkilap namanya di era ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghhh,Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor,Betrayer, Sadistis, Godzilla dan sebagainya.


Band grindcore Tengkorak pada tahun 1996 malah tercatat sebagai band yang pertama kali merilis mini album secara independen di Jakarta denganjudul `It's A Proud To Vomit Him'. Album ini direkam secaraprofesional di Studio Triple M, Jakarta dengan sound engineer HarryWidodo (sebelumnya pernah menangani album Roxx, Rotor, Koil, Puppen danPAS).


Tahun 1996 juga sempat mencatat kelahiran fanzine musik undergroundpertama di Jakarta, Brainwashed zine. Edisi pertama Brainwashedterbit 24 halaman dengan menampilkan cover Grausig dan profil bandTrauma, Betrayer serta Delirium Tremens. Di ketik di komputerberbasis system operasi Windows 3.1 dan lay-out cut n' pastetradisional, Brainwashed kemudian diperbanyak 100 eksemplar dengan mesinfoto kopi milik saudara penulis sendiri.


Di edisi-edisi berikutnya Brainwashed mengulas pula band-band hardcore, punk bahkan ska. Setelah terbit fotokopian hingga empat edisi, di tahun 1997Brainwashed sempat dicetak ala majalah profesional dengan coverpenuh warna. Hingga tahun 1999 Brainwashed hanya kuat terbit hingga tujuhedisi, sebelum akhirnya di tahun 2000 penulis menggagas format e-zine diinternet (www.bisik.com). Media-media serupa yangselanjutnya lebih konsisten terbit di Jakarta antara lain MorbidNoise zine, Gerilya zine, Rottrevore zine, Cosmic zine dan sebagainya.


29 September 1996 menandakan dimulainya sebuah era baru bagiperkembangan rock underground di Jakarta. Tepat pada hari itulahdigelar acara musik indie untuk pertama kalinya di Poster Café.Acara bernama "Underground Session" ini digelar tiap dua minggusekali pada malam hari kerja. Café legendaris yang dimiliki rocker gaekAhmad Albar ini banyak melahirkan dan membesarkan scene musik indie baruyang memainkan genre musik berbeda dan lebih variatif. Lahirnya sceneBrit/indie pop, ledakan musik ska yang fenomenal era 1997 – 2000 sampaitawuran massal bersejarah antara sebagian kecil massa Jakarta denganBandung terjadi juga di tempat ini.


Getah, Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, StraightAnswer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet,Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV,Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, AgusSasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang `kenyang' manggungdi sana.

 
Bandung scene


Di Bandung sekitar awal 1994 terdapat studio musik legendaris yangmenjadi cikal bakal scene rock underground di sana. Namanya StudioReverse yang terletak di daerah Sukasenang. Pembentukan studio inidigagas oleh Richard Mutter (saat itu drummer PAS) dan Helvi. Ketikasemakin berkembang Reverse lantas melebarkan sayap bisnisnya denganmembuka distro (akronim dari distribution) yang menjual CD, kaset,poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris import lainnya. Selaindistro, Richard juga sempat membentuk label independen 40.1.24 yangrilisan pertamanya di tahun 1997 adalah kompilasi CD yangbertitel "Masaindahbangetsekalipisan." Band-band indie yang ikutserta di kompilasi ini antara lain adalah Burger Kill, Puppen, Papi,Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room, sebagai satu-satunya band asal Jakarta.


Band-band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse ini antara lainPAS dan Puppen. PAS sendiri di tahun 1993 menorehkan sejarah sebagai bandIndonesia yang pertama kali merilis album secaraindependen. Mini album mereka yang bertitel "Four Through The S.A.P"ludes terjual 5000 kaset dalam waktu yang cukup singkat. Mastermind yangmelahirkan ide merilis album PAS secara independen tersebutadalah (alm) Samuel Marudut. Ia adalah Music Director Radio GMR,sebuah stasiun radio rock pertama di Indonesia yang kerap memutardemo-demo rekaman band-band rock amatir asal Bandung, Jakarta dansekitarnya. Tragisnya, di awal 1995 Marudut ditemukan tewas takbernyawa di kediaman Krisna Sucker Head di Jakarta. Yangmengejutkan, kematiannya ini, menurut Krisna, diiringi lagu The End darialbum Best of The Doors yang diputarnya pada tape di kamarKrisna.


Sementara itu Puppen yang dibentuk pada tahun 1992 adalah salahsatu pionir hardcore lokal yang hingga akhir hayatnya di tahun 2002sempat merilis tiga album yaitu, Not A Pup E.P. (1995), MK II (1998) danPuppen s/t (2000). Kemudian menyusul Pure Saturday dengan albumnya yangself-titled. Album ini kemudian dibantu promosinyaoleh Majalah Hai. Kubik juga mengalami hal yang sama, dengan cara bonuskaset 3 lagu sebelum rilis albumnya.


Agak ke timur, masih di Bandung juga, kita akan menemukan sebuahkomunitas yang menjadi episentrum underground metal di sana,komunitas Ujung Berung. Dulunya di daerah ini sempat berdiri StudioPalapa yang banyak berjasa membesarkan band-band underground cadas macamJasad, Forgotten, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, TympanicMembrane, Infamy, Burger Kill dan sebagainya.


Di sinilah kemudian pada awal 1995 terbit fanzine musik pertama di Indonesia yang bernama Revograms Zine. Editornya Dinan, adalah vokalis band Sonic Torment yangmemiliki single unik berjudul "Golok Berbicara". Revograms Zine tercatatsempat tiga kali terbit dan kesemua materi isinya membahas band-bandmetal/hardcore lokal maupun internasional.


Siapapun yang pernah menyaksikan konser rock underground di Bandung pastitakkan melupakan GOR Saparua yang terkenal hingga ke berbagai pelosoktanah air. Bagi band-band indie, venue ini laksana gedung keramat yangpenuh daya magis. Band luar Bandung manapun kalau belum di `baptis' disini belum afdhal rasanya.


Artefak subkultur bawah tanah Bandung paling legendaris ini adalah saksi bisu digelarnya beberapa rock show fenomenal seperti Hullabaloo, Bandung Berisikhingga Bandung Underground. Jumlah penonton setiap acara-acara di atastergolong spektakuler, antara 5000 – 7000 penonton! Tiketmasuknya saja sampai diperjualbelikan dengan harga fantastis segala olehpara calo. Mungkin ini merupakan rekor tersendiri yang belum terpecahkanhingga saat ini di Indonesia untuk ukuran rock showunderground.


Sempat dijuluki sebagai barometer rock underground di Indonesia,Bandung memang merupakan kota yang menawarkan sejuta gagasan-gagasancerdas bagi kemajuan scene nasional. Booming distro yang melandaseluruh Indonesia saat ini juga dipelopori oleh kota ini.

 
Scene Jogjakarta


Kota pelajar adalah julukan formalnya, tapi siapa sangka kalau kota initernyata juga menjadi salah satu scene rock underground terkuat diIndonesia? Well, mari kita telusuri sedikit sejarahnya. Komunitas metalunderground Jogjakarta salah satunya adalah JogjaCorpsegrinder. Komunitas ini sempat menerbitkan fanzine metal HumanWaste, majalah Megaton dan menggelar acara metal legendaris di sana,Jogja Brebeg. Hingga kini acara tersebut sudah terselenggara sepuluhkali! Band-band metal underground lawas dari kota ini antara lain DeathVomit, Mortal Scream, Impurity, Brutal Corpse, Mystis,Ruction.


Untuk scene punk/hardcore/industrial-nya yang bangkit sekitar awal 1997tersebutlah nama Sabotage, Something Wrong, Noise For Violence, BlackBoots, DOM 65, Teknoshit hingga yang paling terkini, Endank Soekamti.Sedangkan untuk scene indie rock/pop, beberapa nama yang patut dihighlight adalah Seek Six Sick, Bangkutaman, Strawberry's Pop sampai TheMonophones. Selain itu, band ska paling keren yang pernah terlahir diIndonesia, Shaggy Dog, juga berasal dari kotaini. Shaggy Dog yang kini dikontrak EMI belakangan malah sedangasyik menggelar tur konser keliling Eropa selama 3 bulan! Kota gudeg initercatat juga pernah menggelar Parkinsound, sebuah festivalmusik elektronik yang pertama di Indonesia. Parkinsound #3 yangdiselenggarakan tanggal 6 Juli 2001 silam di antaranya menampilkan GardenOf The Blind, Mock Me Not, Teknoshit, Fucktory, Melancholic Bitch hinggaMesin Jahat.

Scene Surabaya


Scene underground rock di Surabaya bermula dengan semakin tumbuh-berkembangnya band-band independen beraliran death metal/grindcoresekitar pertengahan tahun 1995. Sejarah terbentuknya berawal dari eventSurabaya Expo (semacam Jakarta Fair di DKI - Red) dimana band- bandunderground metal seperti, Slowdeath, Torture, Dry, Venduzor, Bushidomanggung di sebuah acara musik di event tersebut.


Setelah event itu masing-masing band tersebut kemudian sepakat untukmendirikan sebuah organisasi yang bernama Independen. Base camp dariorganisasi yang tujuan dibentuknya sebagai wadah pemersatu sertasarana sosialisasi informasi antar musisi/band underground metal iniwaktu itu dipusatkan di daerah Ngagel Mulyo atau tepatnya di studio milikband Retri Beauty (band death metal dengan semua personelnya cewek, kiniRIP - Red). Anggota dari organisasi yang merupakan cikal bakalterbentuknya scene underground metal di Surabaya ini memang sengajadibatasi hanya sekitar 7-10 band saja.


Rencana pertama Independen waktu itu adalah menggelar konserunderground rock di Taman Remaja, namun rencana ini ternyata gagal karenakesibukan melakukan konsolidasi di dalam scene. Setelahsemakin jelas dan mulai berkembangnya scene underground metal diSurabaya pada akhir bulan Desember 1997 organisasi Independen resmidibubarkan. Upaya ini dilakukan demi memperluas jaringan agarsemakin tidak tersekat-sekat atau menjadi terkotak-kotakkomunitasnya.


Pada masa-masa terakhir sebelum bubarnya organisasi Independen,divisi record label mereka tercatat sempat merilis beberapa buahalbum milik band-band death metal/grindcore Surabaya. Misalnya debutalbum milik Slowdeath yang bertitel "From Mindless Enthusiasm toSordid Self-Destruction" (September 96), debut album Dryberjudul "Under The Veil of Religion" (97), Brutal Torture "CarnalAbuse", Wafat "Cemetery of Celerage" hingga debut album milik Fear Insideyang bertitel "Mindestruction". Tahun-tahun berikutnyabarulah underground metal di Surabaya dibanjiri oleh rilisan-rilisanalbum milik Growl, Thandus, Holy Terror, Kendath hingga Pejah.


Sebagai ganti Independen kemudian dibentuklah Surabaya UndergroundSociety (S.U.S) tepat di malam tahun baru 1997 di kampus Universitas 45,saat diselenggarakannya event AMUK I. Saat itu di Surabaya juga telahbanyak bermunculan band-band baru dengan aliran musik black metal. Salahsatu band death metal lama yaitu, Dry kemudian berpindah konsep musik seiring dengan derasnya pengaruh musik black metal di Surabaya kala itu.


Tepat tanggal 1 Juni 1997 dibentuklah komunitas underground INFERNO 178yang markasnya terletak di daerah Dharma Husada (Jl. Prof. DR. Moestopo,Red). Di tempat yang agak mirip dengan rumah-toko (Ruko) ini tercatat adabeberapa divisi usaha yaitu, distro, studio musik, indie label, fanzine,warnet dan event organizer untuk acara-acara underground di Surabaya.Event-event yang pernah di gelar olehINFERNO 178 antara lain adalah, STOP THE MADNESS, TEGANGAN TINGGI I & IIhingga BLUEKHUTUQ LIVE.


Maka, untuk mengantisipasi terjadinya stagnansi atau kesenjanganinformasi di dalam scene, lahirlah kemudian GARIS KERAS Newsletter yangterbit pertama kali bulan Februari 1999. Newsletter denganformat fotokopian yang memiliki jumlah 4 halaman itu banyak mengulasberbagai aktivitas musik underground metal, punk hingga HC tak hanya diSurabaya saja tetapi lebih luas lagi. Respon positif pun menurut merekalebih banyak datang justeru dari luar kota Surabaya itusendiri.

 
Scene Malang


Kota berhawa dingin yang ditempuh sekitar tiga jam perjalanan dariSurabaya ini ternyata memiliki scene rock underground yang "panas" sejakawal dekade 90-an. Tersebutlah nama Total Suffer Community(T.S.C) yang menjadi motor penggerak bagi kebangkitan komunitas rockunderground di Malang sejak awal 1995. Anggota komunitas ini terdiri dariberbagai macam musisi lintas-scene, namun dominasinya tetapsaja anak-anak metal. Konser rock underground yang pertama kalidigelar di kota Malang diorganisir pula oleh komunitas ini. Acarabertajuk Parade Musik Underground tersebut digelar di Gedung Sasana AsihYPAC pada tanggal 28 Juli 1996 dengan menampilkan band-bandlokal Malang seperti Bangkai (grindcore), Ritual Orchestra (black metal),Sekarat (death metal), Knuckle Head (punk/hc), Grindpeace (industrialdeath metal), No Man's Land (punk), The Babies (punk) dan juga band-bandasal Surabaya, Slowdeath (grindcore) serta The Sinners (punk).


Beberapa band Malang lainnya yang patut di beri kredit antara lainKeramat, Perish, Genital Giblets, Santhet dan tentunya RottenCorpse. Band yang terakhir disebut malah menjadi pelopor stylebrutal death metal di Indonesia. Album debut mereka yangbertitel "Maggot Sickness" saat itu menggemparkan scene metal diJakarta, Bandung, Jogjakarta dan Bali karena komposisinya yang solid dankualitas rekamannya yang top notch. Belakangan band ini pecah menjadi duadan salah satu gitaris sekaligus pendirinya, Adyth,hijrah ke Bandung dan membentuk Disinfected. Di kota inilah lahir untukkedua kalinya fanzine musik di Indonesia. Namanya Mindblast zine yangditerbitkan oleh dua orang scenester, Afril dan Samackpada akhir 1995. Afril sendiri merupakan eks-vokalis band Grindpeace yangkini eksis di band crust-grind gawat, Extreme Decay. Sementara indielabel pionir yang hingga kini masih bertahan serta tetapproduktif merilis album di Malang adalah Confused Records
 
Scene Bali


Berbicara scene underground di Bali kembali kita akan menemukankomunitas metal sebagai pelopornya. Penggerak awalnya adalahkomunitas 1921 Bali Corpsegrinder di Denpasar. Ikut eksis didalamnya antara lain, Dede Suhita, Putra Pande, Age Grindcorner dan SabdoMoelyo. Dede adalah editor majalah metal Megaton yang terbit diJogjakarta, Putra Pande adalah salah satu pionir webzine metal IndonesiaCorpsegrinder (kini Anorexia Orgasm) sejak 1998, Ageadalah pengusaha distro yang pertama di Bali dan Moel adalahgitaris/vokalis band death metal etnik, Eternal Madness yang aktifmenggelar konser underground di sana. Nama 1921 sebenarnya diambil daridurasi siaran program musik metal mingguan di Radio Cassanova, Bali yangberlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 WITA.


Awal 1996 komunitas ini pecah dan masing-masing individunya jalansendiri-sendiri. Moel bersama EM Enterprise pada tanggal 20 Oktober 1996menggelar konser underground besar pertama di Bali bernamaTotal Uyut di GOR Ngurah Rai, Denpasar. Band-band Bali yang tampil diantaranya Eternal Madness, Superman Is Dead, Pokoke, Lithium,Triple Punk, Phobia, Asmodius hingga Death Chorus. Sementara band- bandluar Balinya adalah Grausig, Betrayer (Jakarta), Jasad, Dajjal,Sacrilegious, Total Riot (Bandung) dan Death Vomit (Jogjakarta).Konser ini sukses menyedot sekitar 2000 orang penonton dan hinggasekarang menjadi festival rock underground tahunan di sana. Salah satualumni Total Uyut yang sekarang sukses besar ke seanteronusantara adalah band punk asal Kuta, Superman Is Dead. Mereka malahmenjadi band punk pertama di Indonesia yang dikontrak 6 album oleh SonyMusic Indonesia. Band-band indie Bali masa kini yang stand out diantaranya adalah Navicula, Postmen, The Brews, Telephone, Blod Shot Eyesdan tentu saja Eternal Madness yang tengah bersiap merilis album ke tigamereka dalam waktu dekat.